Powered By Blogger

Selasa, 10 Mei 2011

BAB II KALOR


BAB II
KALOR

            Sudah dijelaskan pada bab sebelumnya apabila dua buah benda yang berbeda temperaturnya saling berkontak termal, temperatur benda yang lebih panas berkurang sedangkan temperatur benda yang lebih dingin bertambah. Ada sesuatu yang berpindah dalam kasus ini, apa ?
Kalorik, suatu materi yang tak terlihat, yang mengalir dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah.

Benyamin Thomson/Count Rumford (1753-1814) dengan eksperimen-nya, dia mengebor logam, teramati bahwa mata bor menjadi panas dan didinginkan dengan air (sampai airnya mendidih), tentunya dari teori “kalorik”, kalorik tersebut lama kelamaan akan habis dan ternyata bila proses tersebut berlanjut terus kalorik tersebut tidak habis, jadi teori kalorik tidak tepat. Jadi kalor bukan materi.

                                                                 kalor
                                                T1                                            T2                      T1>T2


1. KALOR dan ENERGI TERMAL
Ada suatu perbedaan antara kalor (heat) dan energi dalam dari suatu bahan. Kalor hanya digunakan bila menjelaskan perpindahan energi dari  satu tempat ke yang lain.
Kalor adalah energi yang dipindahkan akibat adanya perbedaan temperatur.. Sedangkan energi dalam (termis) adalah energi karena temperaturnya.
1.1. Satuan Kalor.
Satuan kalor adalah kalori dimana, 1 kalori adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gr air dari 14,5 C menjadi 15,5 C.
Dalam sistem British, 1 Btu  (British Thermal Unit)  adalah kalor untuk menaikkan temperatur 1 lb air dari 63 F menjadi 64 F.
                        1 kal = 4,186 J = 3,968 x 10-3 Btu
                        1 J = 0,2389 kal = 9,478 x 10-4 Btu
                        1 Btu = 1055 J = 252,0 kal

1.2. Kesetaraan Mekanik dari Kalor.
Dai konsep energi mekanik diperoleh bahwa bila gesekan terjadi pada sistem mekanis, ada energi mekanis yang hilang. Dan dari eksperimen diperoleh bahwa energi yang hilang tersebut berubah menjadi energi termal.
Dari eksperimen yang dilakukan oleh Joule (aktif penelitian pada tahun 1837-1847)  diperoleh kesetaraan mekanis dari kalor :
                                    1 kal = 4,186 joule

3. KAPASITAS KALOR dan KALOR JENIS
Kapasitas kalor (C) : jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur dari suatu sampel bahan sebesar 1 Co.
                                    DQ = C DT
Kapasitas panas dari beberapa benda sebanding dengan massanya, maka lebih mudah bila didefinisikan kalor jenis, c :
 Kalor jenis, c : jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur dari 1 gr massa bahan sebesar 1 Co.           
                                    DQ = m c DT
                                                        T2           
Bila harga c tidak konstan : Q = ò m c  dT
                                                       T1

Catatan : untuk gas kalor jenis biasanya dinyatakan untuk satu mol bahan, dsb kalor jenis molar,
DQ = n c DT
Kalor jenis beberapa bahan pada 25 C.
Bahan
c (kal/gr. Co)
Bahan
c (kal/gr. Co)
Aluminium
0,215
Kuningan
0,092
Tembaga
0,0924
Kayu
0,41
Emas
0,0308
Glas
0,200
Besi
0,107
Es (-5 C)
0,50
Timbal
0,0305
Alkohol
0,58
Perak
0,056
Air Raksa
0,033
Silikon
0,056
Air (15 C)
1,00

3. KALOR LATEN
Suatu bahan biasanya mengalami perubahan temperatur bila terjadi perpindahan kalor antara bahan dengan lingkungannya. Pada suatu situasi tertentu, aliran kalor ini tidak merubah temperaturnya. Hal ini terjadi bila bahan mengalami perubahan fasa. Misalnya padat menjadi cair (mencair), cair menjadi uap (mendidih) dan perubahan struktur kristal (zat padat). Energi yang diperlukan disebut kalor transformasi.
Kalor yang diperlukan untuk merubah fasa dari bahan bermassa m adalah         
                                    Q = m L
dimana L adalah kalor laten.

4. PERPINDAHAN KALOR
Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bertemperatur lebih tinggi ke benda yang bertemperatur lebih rendah, hingga tercapainya kesetimbangan termal.
Proses perpindahan panas ini berlangsung dalam 3 mekanisme, yaitu : konduksi, konveksi dan radiasi.

4.1. Konduksi
Proses perpindahan kalor secara konduksi bila dilihat secara atomik merupakan pertukaran energi kinetik antar molekul (atom), dimana partikel yang energinya rendah dapat meningkat dengan menumbuk partikel dengan energi yang lebih tinggi.


 



Sebelum dipanaskan atom dan elektron dari logam bergetar pada posisi setimbang. Pada ujung logam mulai dipanaskan, pada bagian ini atom dan elektron bergetar dengan amplitudi yang makin membesar. Selanjutnya bertumbukan dengan atom dan elektron disekitarnya dan memindahkan sebagian energinya. Kejadian ini berlanjut hingga pada atom dan elektron di ujung logam yang satunya. Konduksi terjadi melalui getaran dan gerakan elektron bebas.


 

                                         T2                      T1 T1


 

                                                                                    Aliran kalor
                                                                        A
                                                              Dx

Bila T2 dan T1 dipertahankan terus besarnya, maka kesetimbangan termal tidak akan pernah tercapai, dan dalam keadaan  mantap/tunak (stedy state), kalor yang mengalir persatuan waktu sebanding dengan luas penampang A, sebanding dengan perbedaan temperatur DT dan berbanding terbalik dengan lebar bidang Dx
                                                            DQ/Dt = H µ A DT/Dx

Untuk penampang berupa bidang datar :          


 

           
                                    T1                                            T2
                                                            L

                                                H = - k A (T1 - T2 ) / L
k adalah kondutivitas termal.
Konduktivitas termal untuk beberapa bahan :
Bahan
k  (W/m.Co)
Bahan
k  (W/m.Co)
Aluminium
238
Asbestos
0,08
Tembaga
397
Concrete
0,8
Emas
314
Gelas
0,8
Besi
79,5
Karet
0,2
Timbal
34,7
air
0,6
Perak
427
kayu
0,08


udara
0,0234

Untuk susunan beberapa bahan dengan ketebalan L1, L2,, ... dan konduktivitas masing-masing k1, k2,, ... adalah :                     
                                    H  =    A (T1 - T2 )
                                                å (L1/k1)


 

                                                                       
                                                  k1          k2
            T1                                    L1            L2                       T2
           
                                               
Bagaimana dengan bidang yang berbentuk silinder ?


4.2. Konveksi
            Apabila kalor berpindah dengan cara gerakan partikel yang telah dipanaskan dikatakan perpindahan kalor secara konveksi. Bila perpindahannya dikarenakan perbedaan kerapatan disebut konveksi alami (natural convection) dan bila didorong, misal dengan fan atau pompa disebut konveksi paksa (forced convection).
            Besarnya konveksi tergantung pada :
a. Luas permukaan benda yang bersinggungan dengan fluida (A).
b. Perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida (DT).
c. koefisien konveksi (h), yang tergantung pada :
            # viscositas fluida
            # kecepatan fluida
            # perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida
            # kapasitas panas fluida
            # rapat massa fluida
            # bentuk permukaan kontak

            Konveksi :                 H = h x A x DT


4.3. Radiasi
            Pada proses radiasi, energi termis diubah menjadi energi radiasi. Energi ini termuat dalam gelombang elektromagnetik, khususnya daerah inframerah (700 nm - 100 mm). Saat gelombang elektromagnetik tersebut berinteraksi dengan materi energi radiasi berubah menjadi energi termal.
            Untuk benda hitam, radiasi termal yang dipancarkan per satuan waktu per satuan luas  pada temperatur T kelvin adalah :

                                    E = es T4.    
dimana s : konstanta Boltzmann : 5,67 x 10-8 W/ m2 K4.
                 e : emitansi (0 £ e £ 1)

BAB I TEMPERATUR


BAB I
TEMPERATUR

1. TEMPERATUR.
     Temperatur adalah ukuran panas-dinginnya dari suatu benda. Panas-dinginnya suatu benda berkaitan dengan energi termis yang terkandung dalam benda tersebut. Makin besar energi termisnya, makin besar temperaturnya.
                         dingin                                         panas       

1.1. Kontak termal.
         Dua buah benda dikatakan dalam keadaan kontak termal bila energi termal dapat bertukar diantara kedua benda tanpa adanya usaha yang dilakukan.
           
                                          es
                                                                                      es
                                                air                                  air

           
1.2. Kesetimbangan thermal
Yaitu situasi yang mana dua benda yang dalam keadaan kontak thermal menukarkan energi termal dalam jumlah yang sama. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kesetimbangan thermal tergantung sifat benda tersebut. Pada saat kesetimbangan thermal ke dua benda mempunyai temperatur yang sama.
1.3. Hukum ke-nol Thermodinamika
   “Jika benda A dan B masing-masing dalam keadaan setimbang thermal dengan benda ke tiga C, maka benda A dan B dalam keadaan setimbang thermal terhadap satu sama lain”.
Benda ketiga C ini nanti yang akan kita sebut thermometer. Dua benda A dan B yang dalam  kesetimbangan thermal mempunyai tempertur yang sama.
                                                            C                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
                                                                                                                                                                                            B                                                         A                                                                                                        

2. TERMOMETER
     Mengukur temperatur sebuah benda secara kuantitatif dengan menggunakan termometer. Termometer ini terbuat dari bahan yang bersifat termometrik (sifat fisiknya bervariasi terhadap temperatur).
      š volume cairan
      š panjang kawat
      š hambatan kawat
      š volume gas pada tekanan konstan
      š tekanan gas pada volume konstan
      š warna pijar dsb.
2.1. Thermometer gas volume konstan.
         Sifat termometrik dari termometer ini adalah tekanan gas yang bervariasi terhadap temperatur pada volume konstan.

                        T = aP + b

         a dan b konstan. Konstanta ini dapat ditentukan dengan mengguna-kan dua titik tertentu.
         Dari eksperimen ternyata untuk semua gas mempunyai nilai b yang sama (pada tekanan nol mempunyai temperatur yang sama, yaitu pada temperatur -273,15 oC

                                                                                    P
gas 1
                                                                                                                       
gas 2
                                                                                                                                   
gas 3

                                                                                                                                   
                                                                                                                                       T( oC)
              -273,15                                                               0
1954, dibuat ketentuan referensi temperatur yaitu titik tripel air, yaitu air, uap air dan es dapat berada dalam kesetimbangan, yaitu pada temperatur 0,01 oC dan tekanan 0,61 kPa. Titik tripel air pada skala baru menjadi 273,16 K.
Jika b = 0 dan P3 adalah tekanan pada titik triple maka :
                                    a = 273,16 K/ P3
maka
                                    T = (273,16 K/ P3) P
pada tekanan rendah dan temperatur tinggi gas real dapat dipandang sebagai gas ideal, maka

                                    T = 273,16 K  lim P/ P3                                             (Temperatur gas ideal )
                                                             P3® 0
2.2. Skala Temperatur Celcius dan Fahrenheit.
            Pergeseran skala Celcius dengan temperatur absolut kelvin T sebesar 273,15 , maka
                                                Tc = T - 273,15
Oleh karena itu titik beku air (273,15 K) berhubungan dengan 0,00 C dan titik didih air (373,15 K) berhubungan dengan 100,00 C
                                    10O      titik didih air             212




                                    100 skala                                           180 skala

                                    0         titik beku air                32
                        CELCIUS                                              FAHRENHEIT

Hubungan antara skala celcius dan skala Fahrenheit :
                                    TF = 9/5 TC + 32

2.3. Termometer yang lain.
• Termometer hambatan platina : perubahan hambatan 0,3 % setiap  1 K. Dapat digunakan pada rentang : 14 K - 900 K dan dapat dikalibrasi untuk ± 0,0003 K pada titik triple air.
• Termokopel : Sambungan dari dua logam/alloy yang berbeda. Dapat mengukur pada rentang -180 C sampai 1500 C tergantung pada logamnya.
• Thermistor : dari bahan semikonduktor. Rentang temperatur yang terukur -50 C sampai 100 C dengan ketelitian 0,001 C

3. PEMUAIAN ZAT PADAT.
            Zat padat secara mikroskopis dapat dipandang sebagai model atom-atom yang dihubungkan dengan pegas.
Pegas-pegas tersebut bergetar dengan amplitudo (berkaitan dengan jarak antar atom) tertentu. Bila temperaturnya dinaikkan maka amplitudonya juga berubah akibatnya jarak antar atom juga berubah. Sehingga secara keseluruhan dimensi dari zat padat tersebut berubah.
Untuk perubahan 1 dimensi diperoleh hubungan :

                                                L = Lo (1 + a DT)
dimana           Lo        : panjang mula-mula
                        a         : koefisien muai linear ( /Co)
                        DT    : perubahan temperatur (C)


Koefisien muai linear (a) dari beberapa zat padat :
Bahan
a (x 10-6 /Co)
Bahan
a (x 10-6 /Co)
Aluminium
23
Kuningan
19
Tembaga
17
Timbal
29
Gelas (biasa)
9
Gelas (pirex)
3,2
Baja
11
Invar (Ni-Fe alloy)
0,9

Untuk pemuaian 2 dimensi :
                                                A = Ao (1 + 2aDT)
Untuk pemuaian 3 dimensi :                                            
                                                V = Vo(1 + 3aDT)